ADONARAindonesia

"Hanya hidup demi sesama yang membuat kehidupan menjadi lebih bermakna"
(Albert Einstein)

..........SALAM DAMAI DALAM KERAGAMAN..........

Rabu, 21 November 2007

Kenangan Manis di Hari nan Fitri

Serbu Rumah Warga Muslim Adonara-Surabaya
Tulisan ini pernah dimuat harian SURYA (7 Nov '07)



Idul Fitri belum lama berlalu. Namun saya yakin, banyak diantara kita punya kenangan manis di hari nan fitri itu. Dan, kenangan itu tak hanya dirasakan saudari-saudaraku kaum muslim. Umat non-muslim pun turut merasakan nikmatnya ketupat lebaran.

Adalah sekelompok anak muda luar pulau yang terhimpun dalam komunitas Generasi Muda Adonara (GEMA) Surabaya. Sekadar diketahui, Adonara adalah sebuah pulau kecil di ujung timur pulau Flores. Ibarat pulau Madura (Adonara-nya) dengan pulau Jawa (Floresnya). Hanya butuh 15 menit jika menyeberang dari pelabuhan Larantuka. Dekat sekali. Secara administratif, Adonara merupakan bagian dari kabupaten Flores Timur, NTT.

Nah, kenangan apa yang diukir anak-anak GEMA pada lebaran lalu? Meski Adonara identik dengan Katolik, namun sekitar 30 persen anggota GEMA adalah pemeluk Islam. Pada Lebaran kali lalu, GEMA melakukan aksi yang tak biasanya. Anggota yang Katolik berinisiatif “menyerang” rumah-rumah warga muslim Adonara di Surabaya.

Setelah semuanya sepakat, nama dan alamat warga dilist. Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, dengan mengendarai sepeda motor, sekitar 40 anggota GEMA (Islam-Katolik) beramai-ramai “menyerbu” rumah warga dilist tadi.

Semua pemilik rumah termasuk tetangga-tetangganya kaget dengan “serangan” penuh kasih pada 13 Oktober itu. Bahkan, beberapa diantaranya sempat meneteskan air mata. Mereka terharu melihat kebersamaan anak-anak muda ini. Ada kebahagiaan tak terkira yang terukir indah dilubuk hati yang terdalam. Diakui, selama bertahun-tahun bermukim di Surabaya, nereka belum pernah mengalami peristiwa langkah yang dilakukan sekelompok anak muda ini.

Karena ada banyak rumah yang harus dikunjungi, maka durasi bersalaman, cipika-cipiki, dan berpelukan dibatasi 15 menit tiap rumah. Tapi ini bukan harga mati, selalu fleksibel tergantung keadaan. Aturan bisa diamandemen ketika “kampung tengah” sudah tak mau kompromi. Tawaran menikmati ketupat, opor ayam, jagung titi (makanan khas Adonara), dan jajanan khas lainnya dengan senang hati diterima anak-anak GEMA. Sebagai kenang-kenangan, selalu ada foto bersama disetiap rumah yang dikunjungi.

Keceriaan sepanjang perjalanan membuat lelah nyaris tak terasa. Konvoi dengan rute Tanjung Perak, Sidotopo, Rungkut, Gedangan, Jemursari, dan Kebraon ini dimulai pukul 10.00 hingga 21.00. Setibanya di sekretariat, jalan Waringin, spidometer menunjukan tepat di angka 100 kilometer.

Warga berpesan agar aksi ini dibudayakan. Menuurut personel GEMA, sangat efektif jika kebersamaan dalam keragaman dimulai dari kelompok-kelompok kecil. Dengan demikian, kepedulian dan solidaritas terhadap sesama secara luas akan tumbuh dengan sendirinya. Maka benar apa yang katakan Albert Einstein bahwa, hanya hidup demi sesama yang membuat kehidupan menjadi bermakna. Dan tentu, tanpa membeda-bedakan latar belakang suku, agama, ras, dan golongan.(ansis)

Tidak ada komentar: